Jumat, 20 Juni 2014
Gunung Sinabung dan Mbah Marijan
Saya berada di jarak lebih dari 1400 km dari Gunung Sinabung, ketika atap Sumatera Utara itu berguncang. Tak merasakan apapun, tetapi ada ikatan emosional yang cukup dalam karena di masa lalu saya pernah menjadi bagian dari masyarakat disana bertahun-tahun. Selain pengalaman menikmati keindahan alam dari puncak Sinabung (2460 m), dan saudara kembarnya, Sibayak (2094 m), keramahan dan kesantunan masyarakat etnis Karo di sekitar kedua gunung itu sangat mengesankan. Kesuburan tanah yang mendorong produksi sayur mayur dan buah-buahan melimpah, dan juga wisata lingkungan yang ramai, membuat perekonomian masyarakat di pegunungan ini berkembang sangat baik. Faktor ini, boleh jadi, melenakan masyarakat dari bahaya laten vulkanis.
Ketahuilah, kita adalah bangsa yang berbesar hati untuk hidup rukun bersanding bersama marabahaya. Kepulauan Nusantara adalah bagian dari zona Ring of Fire yang hiperaktif, sebuah kawasan pertabrakan lempeng tektonik eurasia, indo-australia dan pasifik yang menyimpan dua potensi petaka sekaligus: letusan gunung berapi dan gempa bumi. Geografi Indonesia, menurut national geographic, memetakan setidaknya 129 gunung berapi aktif. Di pulau Jawa sendiri, ada sekitar 120 juta manusia yang hidup berjejalan dengan 30 gunung berapi.
Bagi masyarakat di Gunung Sinabung, juga di sekitar Merapi, Sumbing, Semeru dan lainnya, gunung berapi adalah rahmat. Abu vulkanik dari letusan masa lalu adalah fertilisator alamiah bagi lahan pertanian. Tetapi kewaspadaan tak boleh sedikitpun terabaikan meski itu terhadap sebuah gunung yang diam.
Mari bernostalgia dengan ledakan Krakatau pada 27 Agustus 1883. Krakatau, mencatatkan diri sebagai letusan pembunuh terbesar kedua setelah letusan Gunung Vesuvius di Italia. Saat itu, mungkin tanah Jawa dan Sumatera masih sepi manusia, korban Krakatau tercatat sebesar 34.000 jiwa. Gelombang pasang yang ditimbulkan akibat letusan itu mencapai Suriname, sebuah tempat yang berjarak sekitar 11.500 mil dari pusat letusan.
Sejarah juga mencatat bahwa letusan Gunung Tambora di kepulauan Sumbawa sebagai salah satu terbesar di muka bumi pada 10 April 1815. Letusan ini memuntahkan 100 km kubik magma serta gas panas yang disertai partikel belerang hingga setinggi 43 km. Emisi gas belerang hidroksida yang keluar akibat letusan Tambora ini bahkan mencapai stratosfer dan menciptakan suatu selaput kabut yang menghalangi pancaran sinar surya ke bumi. Pasca letusan ini di Amerika Serikat mengalami “a year without summer”. Letusan Tambora juga dianggap memberi andil pada perubahan cuaca yang mengakibatkan kekalahan pasukan Napoleon dalam Pertempuran Waterloo.
Menyikapi potensi bahaya yang mungkin terjadi, masyarakat melek teknologi telah merancang sistem peringatan dini letusan gunung berapi. Namun terkadang kenyataan tak berjalan sesuai harapan. Ketika Sinabung meletus, banyak pengamat yang kecolongan, tak menyangka bahwa gunung yang tanpa aktifitas itu ternyata meletus tanpa gejala apapun. Lantas apa penyebab letusan itu?
Saya teringat perkataan Mbah Marijan saat letusan terakhir Merapi pada 2006. Marijan, sosok yang membintangi semua berita terkait aktifitas Merapi saat itu, mengatakan bahwa letusan gunung berapi adalah suatu fenomena yang biasa saja. Letusan itu berarti ”penguasa Merapi sedang membangun” demikian menurut bintang minuman energi itu. Marijan, juru kunci yang salah satu tugasnya adalah menenangkan Sapu Jagat, penguasa Merapi, menolak mentah-mentah perintah evakuasi yang dititahkan oleh Hamengku Buwono X, bosnya di Istana Sultan Yogyakarta. Tokoh yang wajahnya muncul sebagai gambar t-shirt dengan tulisan ”Presiden Merapi” ini mengaku telah berinteraksi dengan Merapi sejak bayi, dan oleh karenanya ia mengerti betul isyarat Merapi (dan alam sekitarnya termasuk satwa, angin, temperatur dan cuaca) tentang kemungkinan meletus atau tidak.
Ketika itu, sikap Mbah Marijan yang bersikukuh tak mau dievakuasi ini diikuti oleh masyarakat sekitar Kinahrejo-nya. Marijan merasa bahwa keyakinannya mengisyaratkan kalaupun Merapi meletus tidak akan memakan korban karena sebagai juru kunci ia telah menjalankan tugasnya dengan baik. Dan benar, tak ada korban jiwa ketika akhirnya merapi meletus pada 16 Mei 2006. Kinahrejo yang hanya beberapa jengkal dari kubah lava Merapi, tak tersentuh apapun karena arus lahar mengarah ke barat.
Dalam konteks letusan Sinabung, kita bersyukur tak ada korban jiwa sebagai akibat langsung letusan itu. Namun kepanikan yang mengguncang psikologi masyarakat seharusnya tidak terjadi jika setidaknya isyarat letusan itu terkabarkan kepada masyarakat. Tak ada peringatan dini karena teknologi memang tak disiapkan disana atau karena teknologi tak mampu membaca pertanda alam yang mungkin ada.
Keyakinan tentang gunung berapi, boleh jadi merupakan hal paling mistis dalam masalah vulkanologi Indonesia. Namun tak bisa dipungkiri bahwa sosok seperti Mbah Marijan memegang peran penting dalam budaya masyarakat terkait gunung berapi. Kefasihan Mbah Marijan membaca isyarat alam yang meliputi satwa, angin, temperatur dan cuaca, terbukti ada manfaatnya. Peran ini bisa menjadi sumber informasi yang andal tentang kemungkinan letusan gunung berapi. Ketika teknologi tak berfungsi, kewaskitaan ilmu titen orang shalih seperti Mbah Marijan bisa menjadi acuan untuk menenangkan masyarakat, seperti peran yang dijalankannya saat ini.
Letusan Sinabung adalah isyarat bagi kita untuk selalu waspada dan antisipatif karena gunung berapi, sediam apapun, tetap menyimpan misteri. Besar atau kecil, cepat atau lambat, gunung berapi pasti menciptakan sebuah letusan sebagai bukti kebesaran Sang Pencipta diatas para makhlukNya. Kalaupun ia tak meletus saat ini, di hari kiyamat ia akan meletus dengan dahsyatnya, bersama gunung-gunung yang lain. Wa takuunul jibaalukal ihnil manfusy, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan (QS 101 : 5).
Sumber : http://sedjatee.wordpress.com/2010/08/31/gunung-sinabung-dan-mbah-marijan/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar